![]() |
| Megawati dan para pimpinan PDIP. |
MALADALO.COM -- Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) secara resmi menyatakan penolakan keras terhadap wacana pengembalian mekanisme Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) oleh rezim pemerintahan Prabowo Subianto.
PDIP menilai wacana tersebut sebagai langkah mundur yang berpotensi mencederai kedaulatan rakyat.
Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menegaskan bahwa Pilkada langsung merupakan mandat reformasi yang menempatkan rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi untuk menentukan pemimpin di daerahnya masing-masing.
Ia menyatakan bahwa partai berlambang banteng moncong putih tersebut tetap pada posisi teguh menolak wacana pengembalian Pilkada ke tangan DPRD. Menurutnya, langkah tersebut merupakan bentuk pengingkaran terhadap semangat reformasi 1998.
Dalam keterangannya di Kantor DPP PDIP, Hasto menekankan bahwa esensi demokrasi adalah keterlibatan langsung masyarakat dalam menentukan nasib daerahnya.
"PDI Perjuangan tidak akan pernah setuju jika hak rakyat untuk memilih pemimpinnya dipangkas. Pilkada langsung adalah kedaulatan rakyat. Jika dikembalikan ke DPRD, kita hanya akan melahirkan pemimpin yang 'berhutang budi' pada elit politik, bukan pada rakyatnya," tegas Hasto.
Alasan Utama Penolakan
PDIP menggarisbawahi beberapa poin krusial mengapa Pilkada harus tetap dilakukan secara langsung oleh rakyat:
1. Kedaulatan di Tangan RakyatMeski menolak Pilkada tidak langsung, PDIP mengakui adanya kekurangan dalam sistem Pilkada langsung saat ini, terutama terkait biaya politik yang tinggi dan potensi konflik horizontal.
Namun, solusi yang ditawarkan PDIP bukanlah menghapus sistemnya, melainkan melakukan perbaikan pada regulasi kampanye, pengetatan aturan mahar politik, serta penguatan pengawasan oleh penyelenggara pemilu (KPU dan Bawaslu).
